Semarak pemb'/> Semarak Dzikir Jama i Nasional Ke-7 di Lumajang

Waktu pelaporan kinerja publikasi ilmiah Periode 2021 Genap telah dibuka s.d 31 Agustus 2022

Semarak Dzikir Jama'i Nasional Ke-7 di Lumajang

Semarak pembacaan dzikir jama'i nasional ke 7 ini terasa sangat membuncah di kabupaten lumajang, tepatnya di pondok pesantren As-Salaf Bondoyudo. Awalnya kegiatan dzikir jama'i nasional ini sempat vakum selama dua tahun, hingga akhirnya acara ini bisa terlaksana kembali pada hari ini (minggu/24/07/2022). Acara ini seharusnya dilaksanakan bersamaan dengan peringatan 1 muharram, akan tetapi menurut penuturan dari panitia, Abina Ihya Ulumiddin berhalangan pada hari itu, maka acara tahunan inipun dimajukan pada hari Minggu.

Acara dibuka dengan sambutan dan seremonial dari panitia, pengurus PCNU Kabupaten Lumajang, dan beberapa jajaran pemerintahan. Ada pula penuturan dari pelaksana atau bisa dibilang sebagai bukti nyata dari khasiat dari meng-istiqomahkan dzikir jama'i. Menurut penuturannya ada saja penambahan jamaah dzikir jama'i, walaupun sebenarnya bukan kuantitas dari jamaahnya, namun keberlangsungan dari rutinitas pembacaan dzikir jama'i.

Acara demi acarapun berlangsung dengan khidmah, pada acara puncak di isi dengan pembacaan dzikir jama'i yang kemudian di lanjutkan dengan pengajian bersama Abi Ihya Ulumiddin. "Apabila sudah terbiasa berkumpul didunia, semoga sampai kepada akhirat," dawuh beliau.

Beliau juga menjelaskan tentang surah Alfatihah.  Beliau menjelaskan bahwa awal surat alfatihah bermakna pujian, membuka sesuatu dengan memuja sang kholik, lalu perlahan menuju akhir dengan pengharapan menjadi semoga dikabulkan.

Mana yang lebih utama antara berpikir dan berdzikir? Abi dengan semangat melafazkan kalimat fadzkuruni adzkurkum, itu menggambarkan betapa pentingnya dzikir dibandingkan dengan pikir. "Ulang-ulanglah sesuatu hingga tercipta pembiasaan, dan lewat pembiasaan akan muncul pencerahan." Ucap beliau

Abi juga mencontohkan bagaimana barokah dzikir bisa melunakkan hati. "Coba lihat pondok pesantren, yang santrinya puluhan ribu, bagaimana bisa tunduk kepada pengasuh atau kiainya? Satu perintah, satu dawuh."

Jaga tiga hal ini supaya bisa menjaga diri di akhir zaman ini. Harta halal langka, dengan menjaga harta tetap halal, berarti kita menjaga apa yang kita makan, yang kita pakai, dan apapun yang melekat di diri kita dari barang haram. Tetap mau ngaji, dengan mengaji berarti kita menjaga pengetahuan akan ilmunya allah, dan itu juga berarti menjaga keberlangsungan dari agama allah. Saudara karena allah, diibaratkan teman kita menggambarkan siapa kita, jadi bertemanlah dengan orang soleh.

Jangan tertipu dengan dunia, kenikmatan sementara. Beramallah dengan niat meraih rida Allah, dengan berkesinambungan, terus menerus.

Terakhir MC sedikit menyampaikan bahwa kalau kita gandolan sarung abuya kejauhan, kita gandolan sarungnya abi saja, akan tetapi abi ihya sendiri berdawuh, bahwa baliau sendiri adalah pesuruh dari kiai, jadi mari kita sama sama gandolan kepada abuya Sayyid Muhammad bin Alwy al-Maliki, cucu rasulullah.

 

Oleh: Ari Alpahru Rozak/Peserta KKN

Related Post