Waktu pelaporan kinerja publikasi ilmiah Periode 2021 Genap telah dibuka s.d 31 Agustus 2022

JEMBER,- Hariyanto, Promovendus pada ujian terbuka Program Pascasarjana Strata-3 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember berhasil menyandang gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam ujian terbuka disertasi.

Sidang ujian terbuka dipimpin langsung oleh Rektor UIN KHAS Jember Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., MM di ruang ujian pascasarjana lantai 2 jalan Mataram No. 1 Mangli, Kaliwates, Selasa siang (08/02/2022).   

Di hadapan ketua sidang, dewan penguji, promotor dan co promotor, Hariyanto yang juga merupakan Dekan pada Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy mempertahankan hasil penelitian disertasinya yang berjudul Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Budaya Religius Studi Multi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Qornain Sukowono Jember dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Al Azhar Mojosari Asembagus Situbondo.

Sidang terbuka langsung oleh Rektor UIN KHAS Jember didampingi tim promotor seperti Prof. Dr. K.H. Abd. Halim Soebahar, M.A dan Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M  sedangkan tim penguji terdiri dari Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., MM, Prof. Dr. H. Sirojuddin, M.M., M.Ag., Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag, Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd, Prof. Dr. Moh. Dahlan, M.Ag dan Dr. H. Aminullah, M.Ag.

Menurut Hariyanto, saat memberikan prestasinya mengungkapkan bahwa pesantren menjadi lembaga pendidikan yang memberikan kontribusi nyata pada masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setiap pesantren memiliki karakter yang menjadi ciri khas baik aspek budaya, kelembagaan maupun aspek keunggulan keilmuan. “Pondok Pesantren Nurul Qornain dan Salafiyah Syafiiyah Al Azhar memiliki keunikan dalam aspek kebudayaan yang menjadi penciri identitas.

Menurut Hariyanto, budaya dibangun atas hasil dari berbagai pertemuan nilai-nilai atau values yang menjadi keyakinan seorang pemmpin pada suatu tatanan organisasi. nilai inilah yang kemudian dibangun berdasar pada pikiran manusia yang pada akhirnya menghasilkan sesuatu yang kemudian disebut sebagai pikiran organisasi. yang kemudian muncul dalam berbagai bentuk nilai-nilai yang dianut bersama dan nilai-nilai tersebut kemudian menjelma sebagai pedoman dalam membentuk bidaya organisasi.

Budaya organisasi, kata Hariyanto, terinternalisasi sebagai tata kehidupan keseharian santri di pesantren yang dibanyak literature diistilahkan dengan pancajiwa yang menggambarkan lima jiwa yang selalu terkoneksi pada aspek pendampingan karakter santri.

Dari tiga fokus penelitian yang diangkatnya muncul beberapa temuan seperti otoritas kiai ditunjukan dengan pola pengelolaan kelembagaan yang terbuka dan memberikan keleluasasn kepada bahwahan dalam berinovasi, keterlibatan penuh majlis keluarga sedangkan  untuk power kiai ditunjukan oleh pimpinan dan pengasuh pesantren, demokratis dan kharismatik berdasarkan legitimasi simbolik sebagai pengasuh dan kiai akademisi didasarkan pada kolektif kolegial.

Dalam penelitiannya, Hariyanto menegaskan bahwa penelitiannya ini menguatkan teori Hersey Blanchard dan Max Weber. “Dalam gaya kepemimpinan yang dilakukan dalam kepemimpinan di pesantren seperti participating, selling, telling, deligating. Empat gaya tersebut setidaknya telah dilakukan dikedua pesantren tersebut dalam mengembangkan budaya religious di pesantren dengan membangun partisipasi bawahan dalam ikut menjaga melestarikan dan mengembangkan budaya religious.

Akhirnya pada sidang terbuka tersebut Hariyanto dinyatakan telah menyelesaikan pendidikan Program Doktor dengan predikat Cumlaude dan merupakan doktor ke 59 pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember#

    

Related Post